“ Saat saya sedang menulis tulisan ini, saya sedang mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Colbie Caillat berjudul Bubbly berulang-ulang kali. Coba deh, dengerin…”
Masih kental dalam ingatan saya (sekental susu manis Cap Enak), saat orang – orang menanyakan di jurusan apa saya kuliah. Setiap kali saya menyebut kata PLANOLOGI, mereka pasti akan bertanya, “ Planologi itu apa ?”, lantas saya menjawab, “Perencanaan Wilayah & Kota “. Dan, mereka akan bertanya lagi, “ Lha, hubungannya dengan Planologi itu apa ?”. “ Sama. Hanya pengistilahannya saja”, jawab saya singkat. Tak berhenti sampai disitu, beberapa diantara mereka malah dengan tega meragukan status pendidikan Planologi yang S1. “Planologi itu D3 yaa?”
Wadoow !!!!!
Mendengar kata Planologi memang sedikit awam bagi sebagian orang. Jangankan mendengarnya, berpikiran kalau jurusan macam itu ada saja juga tidak pernah. Tapi, ya maklum-lah, memang Planologi tidak setenar Mami Dewi Persik atau Papi Saiphul Jamil !
Bagi saya, ilmu Planologi tidak ada bedanya dengan ilmu petugas kecamatan, hoby survey dan hoby ngetik ! Jujur, saya merasa salah jurusan. Bukan ilmu seperti ini yang saya inginkan. Saya adalah tipikal orang yang mudah jenuh. Namun, hebatnya saya adalah saya pandai menghibur diri sendiri (red-bukan narsis). Tapi, menghibur diri sendiri toh tidak bisa datang dengan tiba-tiba, butuh proses dan analisa yang tepat (kayak studio ae..).
Namun, dari itu semua yang terpenting bagi saya adalah bagaimana saya bisa menjalani segala sesuatunya tanpa harus terus – terusan mengeluh kepada Sang Pencipta. Termasuk ketika saya merasa terjebak dengan status sebagai seorang MaBa. Status MaBa bukan status yang menjijikkan. Hanya saja, saya merasa bahwa saya tidak sebebas seperti saat saya masih SMA. Semua gerak – gerik bisa dikambing hitamkan oleh para senior. Itu membuat saya merasa sendiri. Terutama ketika saya berharap banyak dari teman – teman baru saya di Planologi. Saya yang menginginkan perubahan karena bosan dengan tingkah polah teman – teman SMA dulu berharap bisa menemukan kawan – kawan baru yang lebih mengasyikkan dari sudut pandang saya. Tapi sayangnya, di minggu pertama menjadi MaBa, saya sudah mengeluh pada kedua orangtua karena merasa tidak bisa enjoy dengan teman – teman baru dan kegiatan Ospek yang harus saya jalani. Beruntung, saya memiliki kedua orangtua yang selalu mensupport dan membesarkan hati saya. Dari situlah, saya belajar untuk memahami karakter kawan – kawan baru saya. Ibarat kain, mereka semua beraneka warna dan motif. Dan untuk itulah, saya tidak ingin mengambil satu jenis kain saja. Karena saya ingin menggabungkan semua kain itu agar bisa dijahit menjadi satu, membentuk sebuah pakaian jadi yang berharga sangat mahal karena memiliki banyak variasi (untuk kali ini saya tidak ingin warna Pink saja). Begitu juga dengan kami PL 2005. Kami adalah manusia – manusia paling berharga yang diizinkan Tuhan untuk menyatukan perbedaan.
Berbagai macam kejadian menarik saya lalui bersama kawan – kawan angkatan 2005. Mulai dari pengkaderan hari pertama saat kami di uji tentang hakekat manusia (ketika Waskitho ngobrol asyik bareng pohon), adu yel – yel dengan teknik sipil yang jelas kami kalah jumlah, hingga saat berlangsungnya Camp dimana Komting tersayang kami kehilangan atribut syal coklatnya sehingga memaksa Harto’ untuk mengarahkan pandangannya kepada I’in yang kala itu mengenakan jilbab berwarna senada. Mungkin, saking bersemangatnya ingin segera melindungi Komting dari bahan cacian para senior, tanpa disadari Harto telah menghampiri I’in sambil mengacung – acungkan sebilah parang. Kalo orang tidak tahu duduk perkaranya, mungkin Harto’ sudah dikira pelaku perampasan atau perampokan. Karena waktu itu, ekspresi Harto’ benar – benar mengerikan !!! Harto’ tak kuat membendung nafsunya untuk segera merobek – robek jilbab coklat I’in dan menyulapnya menjadi sehelai syal. Tapi untunglah, jibab itu tidak jadi dirobek dan hanya dikalungkan ke leher Komting untuk dimanipulasikan. Sedangkan I’in tetap tampil aman dengan jilbabnya yang lain. Yang kemudian jadi masalah adalah, Apa yang terjadi jika para senior tahu kalo yang dikenakan Komting bukanlah syal melainkan sebuah jilbab ?! Apakah hal itu lantas membuat para senior mengamuk dan menyuruh Komting untuk memakai jilbab tersebut sebagai hukumannya ?!! Entahlah…yang pasti, kami telah berhasil menumbuhkan sikap saling peduli.
Planologi 2005 benar – benar berarti buat saya. Berbagai pengalaman dan kesempatan saya dapatkan darinya. Misalkan saja, pengalaman saat 3x tampil bareng teman – teman band, mesti sekedar ecek – ecek namun saya pasti akan sangat merindukannya kelak. Saya bisa melihat begitu besarnya musicalitas seorang Picolo tentang menghargai makna bermusik. Genthonk yang tidak pernah gentar menunjukkan bakat bermusiknya. Dan juga Beli’ Adi yang piawai menggebuk drum sedahsyat Wong Aksan ato Gilang Ramadhan. Bagi saya, kalian semua berbakat, Guys…
Ada juga pengalaman menarik saat kami melakukan final presentation untuk mata kuliah Studio Proses. Kami yang dibagi menjadi 2 kelompok, yakni untuk wilayah Kenjeran dan Rungkut berlomba menampilkan kekompakan berbusana. Semua anggota Studio Rungkut kompak mengusung tema pakaian warna hitam. Sementara anggota Studio Kenjeran (termasuk saya di dalamnya) memilih untuk seragam memakai atasan dan bawahan bermotif batik. Kala itu, Studio Rungkut memilih rumah Meme sebagai markas besarnya, sedangkan Studio Kenjeran memilih untuk mendiami rumah Putri. Dan hal yang paling menggelitik buat saya ketika itu adalah saya menyaksikan adegan sungkem - sungkeman antara Genthonk dan Gufron yang berakting layaknya anak dan bapak sambil mengenakan atasan batik yang baru mereka coba. Teman – teman sesama Studio Kenjeran yang pernah menyaksikan kejadian tersebut mungkin bisa me-refresh kembali betapa lucunya 2 makhluk Tuhan yang satu itu.
Planologi 2005 memang unik. Beberapa orang yang ada di dalamnya bisa berubah nama dalam sekejap. Tentu saja, nama itu tidak datang dengan tiba – tiba. Misalkan saja Yogi Catuma, lantaran dia adalah yang paling tua diantara kami semua dia mendapat sebutan OM. Garika, yang sewaktu dulu kerap berseru “ Yuk, Yaa…” ketika berpamitan pulang, pada akhirnya mendapat panggilan YAYUK. Fitrah, kerap kali dipanggil BASS lantaran punya suara menggelegar yang mirip dengan suara narator test TOEFL. Begitu juga dengan saya yang memiliki panggilan sendiri. Awalnya sedikit risih tapi, lama - kelamaan terbiasa juga. Malahan, jika sekarang ada yang memanggil dengan nama asli saya, telinga saya ini seolah pangling dengan nama tersebut.
Sangat besar harapan saya jika suatu hari kelak kita mengadakan reuni, kita semua, Planologi angkatan 2005, telah menjadi manusia – manusia yang sukses baik karir, rumah tangga, maupun kehidupan rohaninya. Amien.
“ Kini, terasa sungguh…
Semakin engkau jauh, semakin terasa dekat…
Akan ku kembangkan kasih yang engkau tanam
Di dalam hatiku…..” (Nuansa Bening - Vidi Aldiano)
“ Sumpah I Love you, I need you , I miss you …
Aku tak bisa musnahkan, engkau dari otak-ku…” (by Mahadewi)
___Riska Gomaz 05-16____
JANGAN LAGI BAHAS RELEVANSI MUBES III
17 tahun yang lalu
ho oh....... klo ingat2 tragedi comting memakai kerudung coklatQ sbg ganti slayernya yang hilang membuatQ pngn tertawa,,
BalasHapussaat itu yg ada dlm pikiranQ apa aja ya.... macem2 lah...
lha piye,, bayangkan coba..tu kn kegiatan susur sungai...
hmm hmm hmm...kain katun aja klo kna air dah terasa berat.. Nah lho..apalagi klo kain kaos (tu kerudung kn kain kaos)
pasti berat bgt deh klo terendam air...hwaa apalagi dipake jd slayer (eh dikalungkan tmn2 di leher siy)
kr2 apa ya............yg ada d pikiran senior2 saat itu???? Wallohu A'lam..........
apapun itu.... ViVaTTT!!!